Memuat website...
Bergabunglah dengan gerakan kami, mengembangkan masyarakat melalui pendidikan, kolaborasi, dan kepedulian sosial.
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 - Diskusi inspiratif bersama anak-anak dan pegiat pendidikan tentang pemenuhan hak anak dan mimpi masa depan.
Detail Kegiatan โJadilah bagian dari gerakan berkelanjutan ini.
*Kami menyambut tangan terbuka untuk kolaborasi positif
Berkontribusi Dalam Pembangunan dan Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia Indonesia Serta Mendorong Terwujudnya Masyarakat Adil, Sejahtera dan Demokratis.
Berawal dari kelompok belajar kecil di tahun 2015, berakar pada komunitas dan gotong royong.
Yayasan sosial-kemanusiaan-pendidikan, fokus kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat marjinal melalui kegiatan belajar sepanjang hayat.
surabayapijar@gmail.com
@pijar_surabaya | Pijar Surabaya
+62 821 1927 8740
Sekretariat : Sukomanunggal 5/41, Sukomanunggal, Surabaya
Surabaya, 25 April 2026 โ Six students from Group 10 Batch 1 of the Early Childhood Teacher Education Study Program (PGPAUD) at Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Surabaya, April 25th, 2026 โ Six students from Group 10 Batch 1 of the Early Childhood Teacher Education Study Program (PGPAUD) at Universitas Negeri Surabaya (UNESA) once again conducted a volunteer program at Pelita Insan Pembelajar (PIJAR), located in Tambak Madu IV, Simokerto District, Surabaya. The activity, held on Saturday, April 25th, 2026, marked the second meeting of the volunteer program.
This volunteer program was organized with the aim of providing enjoyable and meaningful learning experiences for children around the PIJAR institution. Considering that mathematics is often regarded as a difficult and intimidating subject for many children, the PGPAUD UNESA students designed innovative and creative learning approaches to help children enjoy and understand both basic and advanced mathematical concepts without pressure. Through a learning-while-playing method, mathematics was expected to become less frightening for learners ranging from early childhood students to junior high school students.
At this second meeting, the learning theme focused on the development of mathematics education. The university students divided the participants into two major groups based on age and educational level. The smaller group, consisting of early childhood students up to Grade 3 elementary school students, received lessons on basic mathematics adjusted to their cognitive abilities, including number recognition, addition, and simple subtraction. Meanwhile, the larger group, consisting of Grade 4 elementary school students up to Grade 3 junior high school students, received more complex mathematics material according to their educational level and learning needs.
The activities began with an energetic ice-breaking session through a game called "Up, Down, Boom." This simple yet effective game successfully created a lively atmosphere and raised the participants' enthusiasm from the very beginning. Through this ice-breaking method, the volunteer students successfully created a warm, enjoyable, and conducive learning environment so that the children felt comfortable and ready to receive the mathematics lessons. Laughter and cheerful voices filled the room during the opening game, indicating that the approach chosen by the university students was highly effective.
The highlight of the activities came when the university students introduced their main game called "Bee Ladder," a creative modification of the traditional snakes-and-ladders game combined with mathematics questions. In this game, the conventional board was transformed into a "Bee Ladder" board where every player whose token landed on a box containing a bee symbol had to complete an educational challenge by answering a mathematics question. For the smaller group, the questions focused on basic mathematics such as addition and simple multiplication, while for the larger group, the questions were adjusted to their educational levels and learning needs, including algebra, geometry, and more complex arithmetic problems.
The "Bee Ladder" game received extraordinary enthusiasm from all participating students. Curiosity and healthy competition among participants made the atmosphere increasingly lively and dynamic. The children appeared highly motivated to answer every mathematics question correctly, not merely because of the game itself, but because they genuinely enjoyed the learning process. The volunteer university students also actively provided encouragement, guidance, and appreciation to every participant who successfully answered the questions, creating a positive and motivating learning environment.
After the "Bee Ladder" session ended, the activities continued with a material review session led by the volunteer students. During this session, the participants were invited to recall together the mathematical concepts they had learned and practiced throughout the activities. The university students patiently re-explained important points from the lessons while also giving the children opportunities to ask questions whenever there were concepts they still did not understand. This review session became an important moment to ensure that the learning objectives had been achieved and that the children's understanding of mathematics had improved.
The second meeting of the volunteer activities concluded warmly and memorably by singing the song "Sayounara" together while performing cheerful hand movements, followed by a group prayer as an expression of gratitude for the successful completion of the activities. This closing moment not only symbolized the end of the day's activities but also strengthened the emotional bond between the volunteer university students and the participants at Pelita Insan Pembelajar (PIJAR). The children's smiles and laughter became clear evidence that the volunteer activities had provided a significant positive impact on them.
The volunteer activities conducted by Group 10 Batch 1 PGPAUD UNESA carried profound meaning for both the university students and the participants at PIJAR. For the university students, this activity became a real laboratory where they could apply the knowledge of early childhood education learned during lectures into real-life practice. Meanwhile, for the children at PIJAR, the presence of the volunteer students provided fresh, innovative, and enjoyable learning stimulation that increased their interest in knowledge, especially mathematics, which is often considered difficult and boring.
Through this volunteer program, the students of Group 10 Batch 1 PGPAUD UNESA hoped to continue making real contributions toward improving the quality of children's education at Pelita Insan Pembelajar (PIJAR) in Tambak Madu IV, Simokerto, Surabaya. The program was also expected to inspire other university students and educational institutions to continue innovating in creating learning methods that are enjoyable, creative, and suited to children's needs. With the spirit of "learning while playing," the PGPAUD UNESA students strongly believed that every child possesses great potential that can be developed through appropriate, caring, and joyful approaches โ and this volunteer program became one real manifestation of that belief.
Oleh: Tim Volunteer UNESA | Dipublikasikan: 11 Juni 2026
Aktivitas "Dream Tree" adalah salah satu program kreatif yang diselenggarakan oleh Pelita Insan sebagai media bagi anak-anak untuk mengekspresikan harapan dan cita-cita mereka. Dalam kegiatan ini, anak-anak diajak untuk menempelkan foto mereka dan menuliskan aspirasi masa depan pada display berbentuk pohon yang telah disiapkan sebelumnya.
Para peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari anak usia prasekolah hingga siswa kelas tujuh SMP yang merupakan bagian dari program belajar di Pelita Insan. Kegiatan ini dipandu langsung oleh fasilitator yang mendampingi dan mengarahkan anak-anak selama proses berlangsung.
Program ini dilaksanakan pada sore hari, pukul 15.30 hingga 16.30 WIB, yang dinilai sebagai waktu yang ideal bagi anak-anak untuk berpartisipasi setelah menyelesaikan kegiatan sekolah mereka. Lingkungan belajar Pelita Insan yang nyaman dan kondusif memungkinkan anak-anak untuk tetap fokus dan mengekspresikan kreativitas mereka secara bebas.
Kegiatan dimulai dengan penjelasan singkat dari fasilitator mengenai tujuan dan tahapan program. Setelah itu, anak-anak mulai menempelkan foto mereka ke pohon impian dan menuliskan impian serta aspirasi mereka dengan antusias. Sepanjang kegiatan, para fasilitator memberikan bimbingan dan dorongan agar anak-anak merasa percaya diri dalam mengungkapkan keinginan dan ambisi mereka.
Di akhir sesi, beberapa peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita tentang impian mereka di depan teman-teman, menciptakan suasana yang hangat dan penuh dukungan di antara semua peserta.
Oleh: Ilmi Bening | Editor: Heti Palestina Yunani | Senin, 21 Juli 2025 07:40 WIB
Untuk memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2025, kelompok-kelompok belajar di kawasan padat penduduk kota Surabaya yang tergabung dalam Forum Pendidikan Alternatif turut serta secara mandiri dan kolektif untuk memperingati momen penting tersebut dengan mengadakan pawai susur kampung.
Forum Pendidikan Alternatif terdiri dari beberapa komunitas pendidikan, yaitu Pijar (Pelita Insan Pembelajar) yang berlokasi di Tambak Mayor dan Pulo Wonokromo Wetan, Sanggar Merah Merdeka (SMM) yang berada di Tales Wonokromo dan Lebak Arum Barat, Sanggar Alang-alang yang berpusat di Joyoboyo dan Pulo Wonokromo, serta Kelompok Belajar Anak Lembaga Karya Dharma (LKD) yang aktif di kawasan Dupak dan Sidotopo.
Dalam upaya memeriahkan momen HAN 2025, forum tersebut menggelar sebuah pawai susur kampung dengan mengusung tema besar "Suara Anak Kampung Membangun Negeri; Berani Berkarya, Berani Bersuara, Perjuangan Asa".
Tema dalam rangka merayakan HAN 2025 tersebut diambil karena anak-anak dari kampung di perkotaan kerap rentan menjadi korban pembangunan dan proses urbanisasi. Pawai susur kampung sekaligus menegaskan bahwa anak-anak juga berhak untuk memiliki ruang berkembang yang memadai.
Selain itu, kegiatan ini menyadarkan kepada masyarakat bahwa anak-anak memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama, tanpa mengalami diskriminasi sosial, ekonomi, suku, ras, agama, maupun budaya.
Pawai susur kampung dimulai pukul 08.15 WIB pada 20 Juli 2025, dari kawasan Pulo Wonokromo Wetan. Kemudian, menyusuri gang-gang pemukiman warga hingga ke Kampung Jalan Tales Wonokromo, Surabaya.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 60 anak dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Peserta membawa berbagai poster dan banner berisi pesan-pesan seputar perlindungan anak serta sosialisasi mengenai Hari Anak Nasional. Misalnya, "Kami butuh kasih sayang bukan sekadar nafkah", "Kami berhak hidup sehat", "Aku punya nama stop bullying", dan "Ajari kami bahasa tanpa kekerasan".
Ketua pelaksana kegiatan, Dini Larasati, mengungkapkan bahwa tujuan dari pawai ini adalah untuk melatih keberanian anak dalam menyuarakan pendapat di ruang publik, memperjuangkan haknya, serta menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya perlindungan anak.
Kegiatan pawai susur kampung tersebut sesuai dengan konsep peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 pada 2025 yang digaungkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), yaitu dengan mengambil pendekatan baru dengan tidak lagi memusatkan perayaan di satu lokasi saja. Jadi, HAN 2025 diperingati secara serentak di berbagai wilayah Indonesia.
Oleh: analisapost.com | 21 Juli 2025 | 2 menit membaca
SURABAYA - Puluhan anak dari berbagai komunitas dan sanggar di Surabaya memadati ruas jalan dalam sebuah momentum penting memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2025.
Bertajuk "Suara Anak Kampung Membangun Negeri: Berani Berkarya, Berani Bersuara, Perjuangkan Asa" pada Minggu (20/7/25), pawai ini menjadi panggung terbuka bagi anak-anak kampung untuk menyuarakan hak dan harapan mereka. Kegiatan yang berlangsung pukul 07.00โ08.00 WIB itu dimulai dari Balai RW Pulo Wonokromo Wetan (Pijar) dan berakhir di Sanggar Merah Merdeka (Jl. Tales III No. 1).
Kegiatan ini diprakarsai oleh Forum Pendidikan Alternatif (FPA) Surabaya dan melibatkan sejumlah sanggar seperti Sanggar Alang-Alang, Sanggar Merah Merdeka (SMM), Pelita Insan Pembelajar (Pijar), dan Yayasan Lembaga Karya Dharma Surabaya (YLKDS). Anak-anak berjalan beriringan sambil membawa poster-poster berisi pesan-pesan tentang hak pendidikan, perlindungan, dan ruang tumbuh yang layak.
Poster itu bertuliskan "Kami Butuh Dukungan, Bukan Amarah" dan "Aku Berani Bersuara, Aku Punya Hak." Mereka menyuarakan harapan akan ruang tumbuh yang lebih adil dan aman. Meski tampak lelah karena berjalan cukup jauh, semangat anak-anak tak surut. Mereka tetap antusias mengelilingi kampung sesuai rute yang ditentukan, sambil mengekspresikan pesan-pesan perjuangan mereka.
Ketua panitia kegiatan, Dini Larasati dari Sanggar Merah Merdeka, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah bagi anak-anak kampung untuk menunjukkan karya dan menyuarakan haknya.
"Kegiatan ini kami selenggarakan karena kami melihat masih banyak anak-anak, khususnya di kampung-kampung, yang mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dari orang tua atau lingkungan terdekat. Mereka juga kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan fasilitas bermain yang layak," ujar Larasati.
"Melalui pawai ini, kami ingin mengangkat isu-isu tersebut dengan cara yang damai, kreatif, dan tanpa kekerasan. Ini adalah suara anak kampung yang ingin didengar, dihargai dan diperhatikan," terangnya.
Quin (8), salah satu peserta pawai, mengaku senang bisa ikut berjalan sambil membawa poster. "Senang bisa jalan-jalan sambil bawa tulisan. Aku pingin Ibu dan Ayah tahu kalau kita juga pingin diperhatikan, pingin didengar. Kalau ngomong, jangan dimarahin terus," ujar gadis cilik itu polos.
Kegiatan tak berhenti di pawai. Anak-anak juga duduk-duduk sambil bercerita yang merefleksikan harapan mereka atas masa depan yang lebih adil dan setara.
Melalui aksi ini, FPA Surabaya berharap masyarakat dan pemerintah semakin lebih peduli terhadap hak anak terutama yang berasal dari komunitas akar rumput agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berdaya.
Oleh: Bahana Patria Gupta | Editor: Yuniadhi Agung | 20 Juli 2025 18:18 WIB | Pendidikan & Kebudayaan
Suasana pagi di Gang I Kampung Pulo Wonokromo Wetan, Surabaya, Jawa Timur, tampak meriah. Puluhan anak sudah hadir dengan membawa poster-poster warna-warni beraneka ragam, Minggu (20/7/2025). Beragam tulisan dibuat. Semua berisi harapan akan pemenuhan hak-hak dasar anak.
Mereka yang datang adalah anak-anak dari berbagai sanggar yang tergabung dalam Forum Pendidikan Alternatif (FPA) Surabaya. Mereka akan melangsungkan acara jalan berkeliling dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional bertajuk "Suara Anak Kampung Membangun Negeri: Berani Berkarya, Berani bersuara, Perjuangan Asa".
Rombongan mulai menyusuri gang-gang kampung tempat mereka tinggal pada pukul 08.30 WIB. Sepanjang jalan, banyak orang dewasa melihat dan membaca langsung tulisan-tulisan yang ada di poster. Tulisan tersebut seperti "Ajari Kami Bahasa Tanpa Kekerasan", "Semua Anak Itu Hebat", "Kami Berhak Hidup Sehat".
Ketua panitia Dini Larasati mengungkapkan, kegiatan tersebut untuk menyadarkan kepada orangtua bahwa ada permasalahan-permasalahan mendasar untuk anak yang belum terselesaikan, khususnya ruang bermain yang aman. "Kurangnya fasilitas tersebut membuat banyak anak-anak di sini akhirnya bermain di pinggir rel. Saya juga melihat fasilitas bermain di taman-taman yang rusak. Pemberian fasilitas bagi anak yang bagus belum menyeluruh," ujar Dini.
Salah satu anak, Naura Hasna, menyuarakan keinginannya untuk dapat didukung menjadi anak berprestasi. Naura sendiri aktif mengikuti kegiatan di Sanggar Pelita Insan Pembelajar (Pijar). "Saya ingin bisa berprestasi dan mendapatkan tempat belajar dan bermain yang aman dan nyaman," ujar Naura.
Puluhan anak yang hadir mungkin hanya sebagian kecil dari anak-anak Indonesia yang berharap dukungan dari keluarga ataupun negara dalam meraih cita-citanya. Tulisan-tulisan di poster yang dibawa mewakili kegelisahan besar mereka akan terabaikannya banyak hak anak-anak.
SURABAYA, 27 Juli 2025 โ VNNMedia
Sorak riang dan semangat anak-anak menggema di Widya Kartika Conference Center, Surabaya, saat mereka tampil memukau dalam perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2025.
Lewat tari tradisional, drama, hingga pencak silat, lebih dari 100 anak mengekspresikan kreativitas dan suara hati mereka dalam pertunjukan yang sarat makna dan pesan moral.
Dengan tema "Suara Anak Kampung Membangun Negeri: Berani Berkarya, Berani Bersuara, Perjuangkan Asa", perayaan HAN tahun ini menjadi panggung bagi anak-anak untuk menyalurkan aspirasi dan kreativitas mereka. Tak hanya sekadar hiburan, setiap penampilan sarat akan pesan penting tentang hak anak untuk tumbuh, bersuara, dan berkarya.
Menurut Dini Larasati, Ketua Panitia HAN 2025, tahun ini adalah kali pertama pihaknya menggandeng berbagai sanggar seni lokal dalam penyelenggaraan acara. "Sejak 2021 kami rutin mengadakan peringatan HAN, tapi baru kali ini kami melibatkan sanggar-sanggar yang mewadahi ekspresi anak-anak dari berbagai latar belakang," ujar Dini.
Lima sanggar yang terlibat, antara lain Sanggar Merah Merdeka, Pijar, Alang-Alang, Karya Kasih Putra, dan Drama Putra Swadaya, berada di bawah naungan Forum Pendidikan Alternatif (FPA)โorganisasi yang mendorong ruang belajar non-formal dan inklusif bagi anak-anak.
Anak-anak dari berbagai sekolah dasar di Surabaya tampil penuh percaya diri, mengenakan kostum warna-warni dan riasan mencolok yang mencerminkan karakter peran mereka.
Di area pintu masuk, pengunjung disambut dengan instalasi foto dan tulisan yang menyoroti pentingnya perhatian emosional dari orang tua, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan materi.
Salah satu penampilan yang paling menyentuh adalah pertunjukan teatrikal tentang anak yang merasa kesepian karena hanya ditemani gadget. Dalam kerinduan akan permainan bersama, pertunjukan itu berpuncak pada momen menyanyikan lagu dolanan legendaris Jawa, "Padhang Bulan", yang menggugah rasa nostalgia.
Dini berharap, acara semacam ini bisa terus berlanjut sebagai ruang bagi anak-anak untuk tampil, tumbuh, dan menyuarakan harapan mereka. "Ini bukan hanya pertunjukan seni, tapi juga bentuk nyata dari partisipasi anak dalam membangun masa depan yang lebih baik," pungkasnya.
iniSURABAYA.com | 27 Juli 2025
iniSURABAYA.com โ "Dimana teman-temanku? Kok gak kelihatan semua? Aku gak ada teman bermain!" Ungkapan penuh kerinduan bermain bersama, beramai-ramai, itu diungkapkan dalam pentas teatrikal yang dibawakan anak-anak Sanggar Pijar yang digelar di Widya Kartika Conference Center, Minggu (27/7/2025).
Di acara peringatan Hari Anak Nasional itu, anak-anak Sanggar Pijar menyajikan drama tentang kerinduan mereka terhadap masa lalu sebelum hadirnya gawai yang bikin masyarakat, termasuk anak-anak kehilangan waktu bersosialisasi.
Selain Sanggar Pijar, kegiatan yang mengangkat tema 'Suara Anak Kampung Membangun Negeri: Berani Berkarya, Berani Bersuara, Perjuangkan Asa' itu juga diisi aksi anak-anak dari Sanggar Merah Merdeka, Sanggar Alang-Alang, Karya Kasih Putra, dan Drama Putra Swadaya.
Lebih dari 100 anak unjuk beragam ketrampilan kesenian, mulai tari, menyanyi, dan musik teatrikal.
Ada pula gelar karya poster yang dipajang di ruangan tersebut. Poster tersebut di antaranya berisi pesan 'Ajari Kami Bahasa Tanpa Kekerasan', 'Kami Butuh Kasih Sayang, Bukan Sekadar Nafkah', dan 'Lintasan Kereta Bukan Tempat Bermain Aman'.
"Ada juga deklarasi untuk menyuarakan keinginan anak-anak terhadap tempat bermain yang cukup dan tempat pendidikan yang layak," ungkap Dini Larasati, Ketua Panitia Peringatan Hari Anak Nasional kepada iniSurabaya.com.
kanalsatu.com | 27 Juli 2025
SURABAYA โ Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2025, puluhan anak dari berbagai sanggar yang tergabung dalam Forum Pendidikan Alternatif (FPA) Surabaya tampil memukau dengan beragam pertunjukan seni tradisi. Acara yang digelar di Widya Kartika Conference Center ini berlangsung meriah dan penuh keceriaan.
Anak-anak dari Sanggar Pijar, Sanggar Merah Merdeka, Sanggar Alang-Alang, Karya Kasih Putra, dan Drama Putra Swadaya unjuk kebolehan melalui tarian tradisional, musik angklung, hingga pertunjukan teater. Lebih dari 100 anak turut serta memeriahkan acara yang mengusung tema "Suara Anak Kampung Membangun Negeri: Berani Berkarya, Berani Bersuara, Perjuangkan Asa".
Ketua panitia, Dini Larasati, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap kreativitas anak-anak kampung. "Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak di kampung juga memiliki bakat dan potensi yang luar biasa. Lewat seni tradisi, mereka bisa mengekspresikan diri sekaligus melestarikan budaya bangsa," ujar Dini.
Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian adalah pertunjukan teater yang dibawakan oleh anak-anak Sanggar Pijar. Mereka memerankan kisah tentang pentingnya kebersamaan dan permainan tradisional di tengah gempuran gawai. Penampilan tersebut ditutup dengan nyanyian lagu dolanan "Padhang Bulan" yang membuat penonton bernostalgia.
Selain pentas seni, acara ini juga dimeriahkan dengan gelar karya poster hasil karya anak-anak. Poster-poster tersebut berisi pesan-pesan tentang hak anak, pentingnya pendidikan, serta ajakan untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak.
"Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menginspirasi banyak pihak untuk lebih peduli terhadap pemenuhan hak anak, terutama ruang bermain dan belajar yang layak," pungkas Dini.